
Butuh waktu 10 menit untuk menunggu Trans Semanggi Surabaya (TSS) di titik bus stop Balai Kota Surabaya. Rute Unesa–ITS, tidak ada barcode yang mengumpan penumpang ke aplikasi pemantauan lokasi bus. Barcode justru ditempel di tiang rambu bus. Jarak antara tiang dan papan rute sekitar 2 meter.
”Barcode seharusnya dipasang di papan rute. Saya scan barcode-nya juga tidak langsung ke aplikasi, justru ke website dinas,” kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Aning Rahmawati.
Aning menjajal TSS hingga pemberhentian Kertajaya. Titik tempuh dari balai kota menuju Kertajaya sekitar 38 menit.
Begitu di dalam bus, keterangan rute atau pemberhentian berikutnya belum terpasang. Informasi bus akan berhenti di bus stop atau halte mana diketahui satu menit sebelum bus mandek.
Nabila, salah seorang penumpang bus, mengungkapkan, dirinya lebih senang menghafal rute dan halte ketimbang membuka aplikasi Teman Bus atau GoBis.
Dara 18 tahun asal Jember itu menuturkan, transportasi TSS membuatnya lebih nyaman jika dibandingkan dengan menggunakan angkot. Selain itu, lanjut Nabila, harga tiketnya lebih murah. ’’Saya dari Purabaya. Naik Suroboyo Bus berhenti di Halte Darmo, lalu berganti ke TSS arah ITS,” ucapnya.
Menurut Aning, integrasi aplikasi Gobis dengan Teman Bus menjadi PR untuk pemkot. Politikus PKS itu menyarankan agar pemkot menggunakan satu aplikasi saja. Tidak perlu dua aplikasi. ”Misal, aplikasi Teman Bus, ya itu saja untuk Suroboyo Bus dan TSS. Tidak usah dipisah-pisah, tidak efisien,” ungkap Aning.
Kepala UPTD Pengelolaan Transportasi Umum Dishub Surabaya Eni Sugiharti Fajarsari menuturkan, per hari rute Suroboyo Bus memiliki persentase demand penumpang yang beragam. Rute Purabaya–Rajawali paling tinggi dibandingkan rute TIJ–Yono Soewoyo dan MERR–Gunung Anyar. Yaitu, 78 persen.
Eni menambahkan, ke depan sangat dimungkinkan penambahan rute Suroboyo Bus. Dia menyebutkan, untuk mendapatkan headway yang ideal di tiga rute tersebut, masih dibutuhkan penambahan 12 unit Suroboyo Bus.
(jawapos.com)